JENIS LAMPU DAN PERBANDINGAN KEUNGGULANNYA

Lampu merupakan teknologi dengan urutan 3 terbesar yang digunakan oleh masyarakat di dunia. Penggunaan ketersediaan energi untuk lampu pada suatu negara berkisar antara 9% – 21%. Dengan adanya konsumsi yang tinggi ini, maka diperlukan sebuah solusi yang dapat menurunkan tingkat konsumsi energi yang berasal dari lampu. Sebelumnya, ketika sistem penerangan masih menggunakan lampu pijar, penggunaan energy mencapai 90%, sedangkan prosentase untuk penerangan hanya mencapai 10% dari total daya yang dikeluarkan, nilai lumens yang diberikan hanya berkisar 10 lm/w. Penggunaan energi yang mencapai 90% membuat lampu pijar menghasilkan panas.

Kemudian, hadir teknologi lampu CFL atau yang dikenal dengan nama lampu ballast. Lampu CFL memberikan keuntungan dibandingkan dengan lampu pijar berupa penghematan energi yang dapat mencapai angka 80%. Dapat diartikan 80% dari lampu digunakan untuk memberikan penerangan, berbeda dengan lampu pijar, dimana untuk penerangan hanya menggunakan 10% saja dari total energi yang digunakan. Keunggulan lain dari lampu CFL adalah nilai lumens yang diberikan mencapai 50 lm/w, sehingga lampu CFL lebih terang dibandingkan dengan lampu pijar.

Dari beberapa keuntungan tersebut, Lampu CFL masih memiliki beberapa kekurangan salah satunya adalah tidak ramah lingkungan karena masih menggunakan merkuri untuk produksi glasstube nya. Kemudian, muncul teknologi solid-state lighting (SSL). Salah satu bentuk dari teknologi SSL adalah LED [1]. Saat ini, lampu LED dikenal secara luas sebagai lampu yang dapat memberikan keuntungan berupa penghematan energi yang efektif dan efisien jika dibandingkan dengan lampu CFL. Dalam suatu penelitian, lampu LED dengan daya 20 watt dapat mengimbangi lampu CFL yang memiliki daya 36 watt. Pada masa sekarang dimana penggunaan Renewable Energy telah banyak dilakukan, LED dapat dianggap sebagai salah satu solusi yang mumpuni [2].

Lebih tinggi kualitas komponen yang digunakan, maka lebih lama usia lampu yang diharapkan. LED dapat dideskripsikan sebagai sistem yang terdiri dari bagian bagian yang berbeda tetapi bekerja secara berkaitan, sehingga apabila salah satu bagian mengalami permasalahan, contohnya penurunan kualitas, maka hal tersebut dapat berpengaruh pada kualitas lampu secara keseluruhan [3].

Referensi :

[1] Matthews,Deanna H. Matthews,Scott H. Jaramillo,Paulina. Weber,Christopher L. 2009. Energy Consumption in the Production of High-Brightness Light-Emitting Diodes. Sustainable Systems and Technology, 2009. ISSST '09. USA.

[2] Hajje,Patric. Kanbar,Nancy. Georges,Semaan. 2012. Case Study of Using LED Lamps As Energy Efficient

Components. Renewable Energies for Developing Countries (REDEC). Lebanon.

[3] B. Hamon, W.D. van Driel, LED degradation: From component to system, Microelectronics Reliability (2016), http://dx.doi.org/10.1016/j.microrel.2016.07.014